MTQ dan Peran Strategis MUI Dalam Penguatan Syiar Dakwah Komunitas

Blog3 Dilihat

Oleh: Dr. H. AM. Jumai, S.E., M.M.

 

SEMARANG – cyberonenews.com – Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) di Kota Semarang bukan sekadar sebuah perhelatan keagamaan. Kehadirannya menjadi momentum penting untuk memperkuat syiar Islam sekaligus membangun kesadaran bersama bahwa Al-Qur’an harus hadir dalam kehidupan masyarakat, pemerintahan, ekonomi, kebudayaan, dan pembangunan bangsa.

Sebagai ibu kota Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang memiliki keunggulan sekaligus tantangan. Keunggulannya terletak pada keberagaman masyarakat, posisi strategis, serta kemampuannya menjadi ruang perjumpaan berbagai komunitas dan kekuatan sosial. Namun, keberagaman juga membutuhkan pengelolaan yang bijaksana agar menjadi kekuatan persatuan, bukan sumber perpecahan.

Jawa Tengah sendiri merupakan salah satu simbol kekuatan peradaban Indonesia. Karena itu, kehadiran para menteri, gubernur dari berbagai provinsi, tokoh agama, tokoh masyarakat, kafilah, dan masyarakat luas dalam pembukaan MTQ menunjukkan bahwa Semarang mampu menjadi panggung kebersamaan nasional. Meskipun Presiden dan Wakil Presiden tidak hadir, kemeriahan pembukaan tetap menggema. Pawai ta’aruf, berbagai ekspresi seni dan budaya, hingga parade pelantunan Mars MTQ yang bahkan memperoleh rekor MURI, menunjukkan antusiasme masyarakat yang luar biasa.

Namun, kita tidak boleh berhenti pada kemeriahan dan rekor. Al-Qur’an tidak membutuhkan rekor untuk menunjukkan kemuliaannya. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an diterjemahkan menjadi perilaku dan gerakan nyata.

Di sinilah dakwah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar menemukan relevansinya. Dakwah harus mencerahkan, mencerdaskan, menggembirakan, dan menggerakkan umat. Setelah MTQ berakhir, harus ada gerakan nyata untuk membangun masyarakat yang berakhlak, adil, toleran, produktif, dan menjauhi kemungkaran. Ketika nilai-nilai kebaikan Al-Qur’an tumbuh di Kota Semarang, maka kezaliman, kemunafikan, dan berbagai bentuk kemungkaran semestinya semakin berkurang.

Peran strategis MUI Jawa Tengah dalam rangkaian aktivitas MTQ juga memperlihatkan hubungan yang harmonis dan kolaboratif antara ulama dan umara. Sinergi tersebut patut menjadi teladan bahwa pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan birokrasi, tetapi membutuhkan panduan moral, spiritual, dan keagamaan.

MTQ juga menghadirkan ekosistem ekonomi yang masif. Kehadiran kafilah dan penggembira dari berbagai daerah menghidupkan sektor kuliner, perhotelan, transportasi, perdagangan, serta berbagai usaha masyarakat. Dengan demikian, syiar keagamaan dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi umat.

Lebih jauh, MTQ harus menghadirkan suasana kebatinan yang tinggi. Nilai-nilai Al-Qur’an memiliki keselarasan dengan nilai luhur Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Karena itu, siapa pun yang menjadi pemimpin, pejabat, maupun orang yang berada di sekitar kekuasaan harus menjiwai nilai-nilai tersebut dalam tindakan nyata.

Dari MTQ di Semarang, mari kita bangun Indonesia yang cerah, berakhlak, bersatu, adil, dan maju berkemajuan. ( Bledek)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *