MTQ Bukan Sekadar Lomba: Dari Semarang, Mari Memohon Pertolongan Allah untuk Menyelamatkan Bangsa

Blog3 Dilihat

 

Oleh: Dr. H. AM Jumai, S.E., M.M.

 

SEMARANG – cyberonenews.com,  September 2026 menjadi bulan istimewa bagi Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang. MTQ Nasional XXXI yang diselenggarakan di Jawa Tengah pada 11–20 September 2026 menempatkan Semarang sebagai salah satu pusat utama kegiatan.

Momentum ini tentu patut disambut dengan penuh rasa syukur. Pemerintah, masyarakat, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, pesantren, lembaga pendidikan, dan seluruh elemen masyarakat memiliki kesempatan untuk menjadikan MTQ bukan sekadar agenda seremonial, tetapi momentum memperkuat kecintaan kepada Al-Qur’an, mempererat ukhuwah, dan membangun karakter masyarakat.

Namun, ada pertanyaan yang lebih mendasar: setelah MTQ selesai, apa yang akan tinggal di tengah masyarakat?

Jangan sampai setelah panggung MTQ dibongkar, para kafilah kembali ke daerah masing-masing, dan gemuruh perlombaan berakhir, Al-Qur’an kembali hanya menjadi bacaan yang indah tanpa diwujudkan dalam kehidupan.

MTQ jangan hanya dipandang sebagai perlombaan tilawah, tahfiz, tafsir, kaligrafi, dan berbagai cabang lainnya. Lebih dari itu, MTQ harus menjadi momentum spiritual untuk membaca kembali tanda-tanda kebesaran Allah sekaligus melakukan muhasabah terhadap perjalanan bangsa dan kehidupan masyarakat.

 

Kita sedang hidup dalam zaman yang penuh ujian.

Bangsa Indonesia menghadapi berbagai persoalan, mulai dari tantangan ekonomi, persoalan sosial, kecelakaan, kebakaran, penyakit, hingga berbagai fenomena alam. Pada periode tertentu, masyarakat juga harus menghadapi musim kemarau, meningkatnya ancaman kebakaran, serta aktivitas vulkanik di sejumlah wilayah.

Bagi orang beriman, berbagai peristiwa tersebut hendaknya tidak sekadar dipandang sebagai fenomena alam, tetapi menjadi bahan perenungan. Alam adalah bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang di hadapan manusia.

Di sinilah pentingnya mempertemukan ayat qauliyah dan ayat kauniyah.

Al-Qur’an merupakan ayat qauliyah, firman Allah yang menjadi petunjuk kehidupan. Sementara alam semesta dan berbagai peristiwa kehidupan merupakan ayat kauniyah yang mengajak manusia berpikir, merenung, dan menyadari keterbatasan dirinya.

 

Allah SWT berfirman:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Dia adalah benar.” (QS. Fussilat: 53)

Maka, MTQ seharusnya menjadi jembatan antara membaca Al-Qur’an dan membaca kehidupan.

Kita melantunkan firman Allah sekaligus merenungkan pesan yang terkandung dalam berbagai peristiwa. Kita membaca ayat tentang pentingnya menjaga kehidupan, kemudian menerapkannya dalam kehidupan nyata. Kita membaca ayat tentang persaudaraan, lalu membangun ukhuwah. Kita membaca tentang keadilan, kemudian memperjuangkan keadilan. Kita membaca tentang amanah, lalu menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh.

Ketika gunung mengeluarkan material vulkanik, manusia diingatkan bahwa dirinya lemah.

Ketika kemarau terjadi, manusia disadarkan betapa berharganya air dan pentingnya menjaga lingkungan.

Ketika kebakaran melanda, manusia diingatkan agar tidak merusak alam.

Ketika kecelakaan dan kematian datang, manusia diingatkan bahwa kehidupan memiliki batas dan setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT.

Tetapi kita juga harus berhati-hati dalam menyikapi musibah. Tidak tepat apabila setiap bencana langsung diklaim sebagai hukuman Allah kepada kelompok atau masyarakat tertentu. Manusia tidak memiliki kewenangan untuk memastikan kehendak Allah di balik setiap musibah.

Musibah harus menjadi ruang untuk introspeksi, meningkatkan ikhtiar, memperkuat kewaspadaan, memperbaiki perilaku, menjaga lingkungan, sekaligus mendekatkan diri kepada Allah.

Yang lebih penting, jangan sampai musibah membuat manusia kehilangan harapan.

 

Allah SWT berfirman:

“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”

(QS. Az-Zumar: 53)

Inilah salah satu pesan penting MTQ bagi masyarakat Semarang.

Al-Qur’an harus turun dari panggung perlombaan menuju kehidupan masyarakat. Dari masjid menuju keluarga. Dari pesantren menuju sekolah. Dari mimbar menuju ruang publik. Dari bacaan menuju perbuatan.

Sebab, penyelamatan bangsa tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan, teknologi, kekuatan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan kebijakan pemerintah.

Bangsa juga membutuhkan iman, moral, kejujuran, amanah, persaudaraan, kepedulian, keadilan, dan akhlak.

Kemajuan tanpa moral dapat kehilangan arah. Kekuasaan tanpa amanah dapat melahirkan ketidakadilan. Kekayaan tanpa kepedulian dapat memperlebar kesenjangan. Teknologi tanpa etika dapat menjadi ancaman.

Karena itu, pembangunan bangsa harus berjalan seiring dengan pembangunan manusia.

Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan manusia bagaimana beribadah kepada Allah, tetapi juga bagaimana memperlakukan sesama manusia, menjaga lingkungan, menegakkan keadilan, menghormati perbedaan, menolong mereka yang lemah, serta membangun kehidupan yang penuh kasih sayang.

 

Allah SWT memberikan sebuah prinsip penting:

“Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”

(QS. Al-A’raf: 96)

Ayat ini harus menjadi bahan renungan bersama.

Keberkahan sebuah kota tidak hanya diukur dari gedung-gedung tinggi, jalan yang semakin lebar, pusat ekonomi yang semakin ramai, atau penghargaan yang semakin banyak.

Keberkahan juga terlihat dari masyarakat yang jujur, pemimpin yang amanah, pejabat yang melayani, orang kaya yang peduli, generasi muda yang berakhlak, lingkungan yang terjaga, serta masyarakat yang saling menolong.

Karena itu, MTQ Nasional di Jawa Tengah, khususnya yang menjadikan Semarang sebagai salah satu pusat kegiatan, harus meninggalkan warisan moral dan spiritual, bukan sekadar kemeriahan acara.

Kita tidak hanya ingin melahirkan juara MTQ.

Kita ingin melahirkan masyarakat yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan.

Bukan hanya memperindah bacaan, tetapi memperindah akhlak.

Bukan hanya menghafal ayat, tetapi mengamalkan nilai-nilainya.

Bukan hanya membangun citra kota, tetapi membangun karakter warganya.

Bukan hanya menyambut tamu dari berbagai daerah, tetapi juga memperkuat persaudaraan di antara warga sendiri.

Semarang membutuhkan masyarakat yang membaca Al-Qur’an, memahami Al-Qur’an, mengamalkan Al-Qur’an, mencintai sesama, menjaga alam, menghormati perbedaan, menolong yang lemah, serta senantiasa memohon pertolongan Allah SWT.

 

Inilah sesungguhnya hikmah terbesar MTQ.

Al-Qur’an menjadi cahaya.

Iman menjadi kekuatan.

Akhlak menjadi penyelamat.

Persaudaraan menjadi perekat.

Ikhtiar menjadi jalan.

Dan pertolongan Allah menjadi harapan.

Mari kita jadikan MTQ Nasional sebagai momentum untuk melakukan gerakan bersama: kembali kepada Al-Qur’an, kembali kepada akhlak, kembali kepada persaudaraan, dan kembali memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

Dari Semarang, mari kita kumandangkan pesan yang sederhana tetapi mendalam:

Membaca ayat Allah.

Merenungi ayat Allah.

Mengamalkan ayat Allah.

Menjaga ciptaan Allah.

Menyayangi sesama.

Dan bersama-sama memohon pertolongan Allah untuk keselamatan bangsa, keberkahan negeri, serta kesejahteraan seluruh warga Kota Semarang.

Karena pada akhirnya, sebesar apa pun ikhtiar manusia, kita tetap membutuhkan pertolongan Allah SWT.

Dan melalui momentum MTQ ini, semoga Semarang bukan hanya menjadi kota tempat berlangsungnya sebuah perlombaan Al-Qur’an, tetapi menjadi kota yang semakin dekat dengan nilai-nilai Al-Qur’an.

Semoga dari Semarang tumbuh semangat baru: membangun bangsa dengan ilmu, menjaga negeri dengan akhlak, memperkuat persaudaraan dengan iman, dan menghadapi setiap ujian dengan ikhtiar serta tawakal kepada Allah SWT.

 

Dr. H. AM Jumai, S.E., M.M.

Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah / Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah

 

#PUR412.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *