SEMARANG -cyberonenews.com – Semangat menyambut perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) di Kota Semarang tidak hanya terlihat dari kesiapan pemerintah dan panitia. Kepedulian masyarakat juga mulai tumbuh, salah satunya ditunjukkan Ketua Forum Komunikasi Ormas Semarang Bersatu (FKSB) Kota Semarang, AM Jumai, dengan menyiapkan lima rumah pribadinya sebagai tempat singgah bagi penggembira maupun kafilah MTQ.
Langkah tersebut menjadi bentuk nyata kegembiraan sekaligus kepedulian AM Jumai dalam menyambut para tamu yang datang ke Kota Semarang. Baginya, menjadi tuan rumah MTQ bukan sekadar agenda perlombaan keagamaan, tetapi juga kesempatan bagi masyarakat untuk menunjukkan keramahan dan semangat gotong royong.
“Menjadi tuan rumah MTQ adalah sebuah kebanggaan sekaligus kewibawaan bagi Kota Semarang. Karena itu, masyarakat bisa mengambil peran sesuai dengan kemampuan masing-masing. Kami kebetulan bisa membantu dengan menyediakan tempat untuk singgah,” ujar AM Jumai.
Menurutnya, semangat menyambut kafilah dan penggembira MTQ harus dibangun sebagai gerakan bersama. Pemerintah, organisasi kemasyarakatan, komunitas, dunia usaha, hingga masyarakat umum dapat memberikan kontribusi sesuai kapasitas masing-masing.
“MTQ bukan hanya tentang perlombaan membaca Al-Qur’an. Ini adalah momentum silaturahmi, syiar Islam, memperkuat persaudaraan, dan membangun kebersamaan. Kami ingin ikut memberikan pelayanan terbaik kepada para tamu yang hadir di Semarang,” katanya.
AM Jumai berharap kehadiran para kafilah dan penggembira MTQ dapat membawa suasana religius yang semakin kuat di Kota Semarang. Menurutnya, cahaya Al-Qur’an seharusnya tidak berhenti pada lantunan ayat dan kemeriahan perlombaan, tetapi tercermin dalam perilaku kehidupan masyarakat.
“Nur cahaya Al-Qur’an mudah-mudahan semakin terpancar di Kota Semarang. Nilai-nilai Al-Qur’an harus diwujudkan dalam akhlak, kejujuran, kepedulian, persaudaraan, toleransi, dan kehidupan sosial kita sehari-hari,” tuturnya.
Selain memberikan dampak spiritual dan sosial, AM Jumai melihat MTQ juga memiliki potensi besar menggerakkan perekonomian masyarakat. Kedatangan ribuan peserta, pendamping, penggembira, dan tamu dari berbagai daerah akan menciptakan pergerakan ekonomi di berbagai sektor.
UMKM, kuliner, transportasi, penginapan, perdagangan, pusat oleh-oleh hingga ekonomi kreatif, menurutnya, dapat ikut merasakan manfaat dari penyelenggaraan MTQ tersebut.
“Bahagia sekali melihat ekosistem ekonomi masyarakat ikut tumbuh. MTQ membawa berkah spiritual sekaligus berkah ekonomi bagi warga Semarang,” ungkapnya.
Karena itu, AM Jumai mengajak seluruh masyarakat Kota Semarang untuk menjadi tuan rumah yang ramah dan memberikan kesan positif kepada seluruh kafilah maupun penggembira yang datang.
Ia berharap semangat kebersamaan yang lahir dari MTQ tidak berhenti ketika seluruh rangkaian kegiatan berakhir. Nilai-nilai persaudaraan, kepedulian, gotong royong, dan kecintaan terhadap Al-Qur’an diharapkan terus hidup dalam kehidupan masyarakat.
“Jangan sampai setelah MTQ selesai, semangatnya ikut selesai. Justru harus menjadi momentum untuk membangun Semarang yang semakin religius, harmonis, maju, dan sejahtera,” tegasnya.
Bagi AM Jumai, membuka pintu rumah untuk para tamu MTQ adalah bagian kecil dari ikhtiar besar membangun budaya keramahan dan persaudaraan di Kota Semarang.
“Dari Semarang, mari kita pancarkan cahaya Al-Qur’an untuk menerangi Indonesia, menuju masyarakat yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” pungkasnya.
#PUR412.
