Trotoar Jalan Pemuda; Ruang Sunyi yang Pernah Riuh oleh Seniman Jalanan

Blog8 Dilihat

Cyberonenews.com

SEMARANG – Trotoar di Jalan Pemuda, tepat di depan Sri Ratu, hari ini mungkin hanya terlihat sebagai jalur pejalan kaki yang padat. Namun pada awal 1990-an, ruang ini pernah menjadi episentrum kreativitas—tempat para seniman jalanan mengekspresikan diri, berdiskusi, sekaligus menyuarakan realitas sosial.

Di titik inilah para pelukis jalanan seperti Celeng, Ari, Basal Alkhalam, dan Pak Leng kerap berkumpul. Nama-nama itu bukan sekadar identitas personal, melainkan simbol dari sebuah gerakan seni yang bebas, jujur, dan membumi. Salah satu yang turut menjadi bagian dari denyut kreatif tersebut adalah Anwar Kristiyanto, yang akrab disapa Awang Tato.

“Di sini, awal 1990-an, saya pernah bikin acara Kemah Gelandangan,” kenang Awang.

Kegiatan itu membentang dari depan Galeri Galendra hingga Sri Ratu—sebuah aksi kolektif yang tidak hanya menghadirkan seni, tetapi juga menjadi medium untuk menyuarakan kehidupan kaum marjinal di ruang publik.

Bagi para pelaku seni, trotoar itu bukan sekadar tempat singgah. Ia menjelma menjadi ruang hidup—tempat bertemunya gagasan, perdebatan, hingga tumbuhnya solidaritas. Setiap orang yang melintas hampir pasti menyaksikan aktivitas mereka: melukis di tempat, berdiskusi hangat, atau sekadar berbagi cerita di antara hiruk pikuk kota.

Atmosfer kreatif tersebut bahkan sempat menarik perhatian Wali Kota Semarang saat itu, Sutrisno Suharto. Para seniman diundang berdialog ke Balaikota. Muncul gagasan untuk membentuk koperasi dan menata komunitas seni jalanan seperti kawasan Malioboro—sebuah pengakuan bahwa mereka adalah bagian penting dari wajah kota.

Tak jauh dari trotoar itu, berdiri Toko Seni Galindra yang menjadi ruang belajar alternatif bagi para seniman. Tanpa harus menjadi pelanggan tetap, mereka datang, mengamati karya, menyerap teknik dan inspirasi. Koleksi yang ditampilkan dikenal berkualitas, menjadi referensi sekaligus pemantik semangat berkarya.

Kini, jejak-jejak kejayaan itu perlahan memudar. Trotoar Jalan Pemuda tak lagi menjadi panggung terbuka seperti dahulu. Nama-nama yang pernah menghidupkan ruang itu pun kian jarang terdengar.

Nasib Toko Seni Galindra pun menyisakan tanda tanya—apakah masih bertahan, atau telah menjadi bagian dari sejarah? Pertanyaan ini membawa kegelisahan yang lebih dalam: siapa yang akan melanjutkan tradisi, siapa yang akan “nguri-uri” seni budaya di tengah laju modernisasi kota?

Yang tersisa hari ini adalah cerita—tentang trotoar yang pernah menjadi galeri tanpa dinding, tentang seniman yang menjadikan jalanan sebagai kanvas, dan tentang sebuah kota yang pernah memberi ruang luas bagi kebebasan berekspresi.

#BDL412.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed