Semarang Bertauhid; Membangun Peradaban Kota Berlandaskan Nilai Ketuhanan

Blog, Opini64 Dilihat

Oleh: AM Jumai

 

Cyberone news.com

SEMARANG – Pembangunan sebuah kota tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, megahnya infrastruktur, atau tingginya investasi. Sebuah kota akan benar-benar maju apabila pembangunan fisik berjalan seiring dengan pembangunan moral, spiritual, dan karakter masyarakatnya. Dalam konteks itulah gagasan “Semarang Bertauhid” menjadi sangat penting sebagai fondasi pembangunan Kota Semarang ke depan.

Tauhid bukan sekadar konsep teologis yang berbicara tentang keesaan Allah Subhanahu wa Ta‘ala, melainkan juga menjadi sumber nilai, etika, moral, dan orientasi hidup manusia. Tauhid melahirkan tanggung jawab sosial, kejujuran, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama. Karena itu, pembangunan yang berlandaskan tauhid sesungguhnya adalah pembangunan yang memanusiakan manusia sekaligus mendekatkan manusia kepada Tuhannya.

Nilai ini dapat dipelajari dari perjalanan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, sosok yang dikenal sebagai bapak tauhid. Al-Qur’an menjelaskan bagaimana Nabi Ibrahim melakukan pencarian spiritual hingga menemukan keyakinan bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan yang layak disembah. Allah berfirman:

> إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh ketundukan, dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik.”

(QS. Al-An‘am: 79)

Puncak ketauhidan Nabi Ibrahim tampak ketika beliau diuji untuk mengorbankan putra tercintanya, Nabi Ismail ‘alaihis salam. Peristiwa ini menunjukkan bahwa tauhid melahirkan kepatuhan, pengorbanan, dan loyalitas total kepada nilai-nilai kebenaran. Spirit inilah yang seharusnya menjadi inspirasi bagi pembangunan masyarakat Kota Semarang.

Konsep “Semarang Bertauhid” mengandung makna bahwa seluruh sendi kehidupan kota harus dibangun di atas nilai ketuhanan. Kepemimpinan harus berlandaskan amanah dan kejujuran. Kebijakan publik harus berpihak kepada kemaslahatan rakyat. Dunia pendidikan harus melahirkan generasi berakhlak. Pengusaha harus menjunjung etika dan keadilan ekonomi. Aparat hukum dan keamanan harus menegakkan keadilan tanpa diskriminasi.

Dalam perspektif sosiologi agama, Emile Durkheim menjelaskan bahwa agama memiliki fungsi moral dan integratif dalam menjaga keteraturan sosial. Sementara Max Weber dalam The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism menegaskan bahwa nilai keagamaan dapat menjadi energi moral bagi kemajuan peradaban. Dengan demikian, pembangunan berbasis nilai ketuhanan bukanlah konsep yang utopis, tetapi memiliki landasan ilmiah dan historis yang kuat.

Kota Semarang saat ini menghadapi tantangan sosial yang serius, mulai dari peredaran minuman keras, narkoba, prostitusi, kekerasan, hingga degradasi moral generasi muda. Persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan hukum dan ekonomi, tetapi juga membutuhkan pendekatan moral dan spiritual.

 

Al-Qur’an mengingatkan:

> وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan keberkahan dari langit dan bumi.”

(QS. Al-A‘raf: 96)

Ayat tersebut menegaskan bahwa keberkahan sebuah negeri sangat bergantung pada kualitas iman dan ketakwaan masyarakatnya. Karena itu, penguatan nilai tauhid harus menjadi gerakan kolektif seluruh elemen masyarakat: pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, akademisi, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat sipil.

“Semarang Bertauhid” bukan gerakan simbolik, melainkan gerakan moral dan peradaban. Tujuannya adalah menghadirkan kota yang religius, aman, berkeadilan, sejahtera, dan bermartabat. Ketika nilai ketuhanan menjadi dasar pembangunan, maka di situlah akan lahir keberkahan sosial, persatuan masyarakat, dan keadilan yang berkelanjutan.

Semarang membutuhkan pembangunan yang tidak hanya membangun gedung dan jalan, tetapi juga membangun hati, akhlak, dan peradaban manusia. Sebab kota yang besar bukan hanya kota yang maju secara fisik, tetapi kota yang mampu menjaga nilai ketuhanan di tengah perubahan zaman.

 

*AM Juma’i Dosen Fakultas Ekonomi Hukum dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Semarang

 

#pur412.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *