Safari Komunitas Budaya LDK Muhammadiyah Jateng: Wayang Kulit Jadi Media Dakwah Menyapa Masyarakat Akar Rumput

Blog, Dakwah5 Dilihat

Cyberone news.com

BOYOLALI – cyberonenews.com – Dakwah tidak selalu hadir melalui mimbar dan ceramah formal. Melalui pendekatan budaya, nilai-nilai Islam dapat disampaikan dengan cara yang lebih dekat, hangat, dan diterima masyarakat. Semangat itulah yang diwujudkan Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah melalui Safari Komunitas Budaya Pentas Wayang Kulit.

Memasuki putaran ke-22, kegiatan dakwah kultural tersebut digelar di Dukuh Kemel, Desa Kedunglengkong, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali, Selasa (16/6/2026). Acara ini sekaligus menjadi rangkaian Tasyakuran Milad Muhammadiyah ke-118 Hijriyah serta tasyakuran warga setempat.

Ribuan masyarakat hadir memadati lokasi kegiatan. Hadir dalam acara tersebut Bupati Boyolali Agus Irawan, S.H., Bendahara PWM Jawa Tengah Prof. Dr. H. Sofyan Anif, M.Si., Ketua LDK PWM Jawa Tengah Dr. H. KRAT. AM Jumai, S.E., M.M., Ketua PDM Boyolali Drs. H. Ali Muhson, M.Si., M.Ag., M.H., M.M., unsur Forkopimcam Kecamatan Simo, pemerintah desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga dari berbagai wilayah.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. H. Sofyan Anif, M.Si. mengapresiasi langkah LDK PWM Jawa Tengah yang konsisten menghadirkan dakwah melalui pendekatan budaya.

Menurutnya, Muhammadiyah merupakan gerakan Islam yang terbuka terhadap berbagai ekspresi budaya selama tetap sejalan dengan nilai-nilai tauhid dan ajaran Islam.

“Dakwah melalui budaya menjadi salah satu cara untuk menjangkau masyarakat yang belum tersentuh melalui pendekatan dakwah konvensional. Seni dan budaya menjadi jembatan komunikasi agar pesan Islam yang mencerahkan dapat diterima dengan lebih mudah,” ujarnya.

Ia menambahkan, Muhammadiyah selama ini telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa melalui berbagai amal usaha, mulai bidang pendidikan, kesehatan, sosial, hingga pemberdayaan masyarakat. Semua itu menjadi bagian dari pengabdian Muhammadiyah untuk kemajuan umat dan bangsa.

Pentas wayang kulit dalam Safari Komunitas Budaya tersebut dibawakan oleh Ki H. Ketut Budiman, S.T., M.T., Eng., yang juga merupakan Bendahara LDK PWM Jawa Tengah. Pertunjukan wayang menjadi media penyampaian pesan moral dan nilai-nilai keislaman dengan pendekatan khas budaya Jawa.

Ketua LDK PWM Jawa Tengah Dr. H. KRAT. AM Jumai, S.E., M.M. mengatakan Safari Komunitas Budaya akan terus berlanjut ke berbagai daerah di Jawa Tengah.

“Ini sudah putaran ke-22. Insya Allah akan terus bergerak menyapa masyarakat. Putaran ke-23 direncanakan berlangsung di Kabupaten Rembang pada Agustus mendatang sekaligus dirangkaikan dengan pelantikan BikersMu,” jelasnya.

Antusiasme warga terlihat sejak sore hingga malam hari. Ribuan masyarakat rela datang untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit. Panitia bahkan menyiapkan lebih dari 1.500 paket makanan ringan bagi para tamu dan warga yang hadir. Seluruh hidangan tersebut habis dinikmati masyarakat karena tingginya jumlah pengunjung.

Bupati Boyolali Agus Irawan, S.H. menyampaikan apresiasi atas kiprah Muhammadiyah yang menghadirkan dakwah melalui budaya.

Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi inspirasi dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis, karena mampu mempertemukan nilai agama dengan kearifan lokal.

“Dakwah melalui budaya menunjukkan bahwa Muhammadiyah memiliki kepedulian terhadap budaya Jawa dan mampu menghadirkan Islam yang dekat dengan masyarakat,” ungkapnya.

Pendekatan kultural sendiri bukan sesuatu yang asing dalam perjalanan Muhammadiyah. Sejak awal berdiri, KH Ahmad Dahlan telah menggunakan cara-cara komunikasi budaya dan silaturahmi dengan berbagai kalangan, termasuk menjalin hubungan baik dengan Keraton Yogyakarta.

Melalui Safari Komunitas Budaya, Muhammadiyah menunjukkan bahwa dakwah dapat dilakukan dengan berbagai metode yang bijaksana, damai, dan menghargai keberagaman. Islam berkemajuan yang dibawa Muhammadiyah terus diupayakan hadir sebagai kekuatan yang mempererat persatuan serta membawa manfaat bagi seluruh masyarakat.

Momentum Milad Muhammadiyah ke-118 Hijriyah menjadi pengingat bahwa perjuangan dakwah bukan hanya menyampaikan ajaran agama, tetapi juga membangun hubungan sosial, menjaga budaya, dan menghadirkan kebermanfaatan bagi bangsa dan kemanusiaan.

 

(#pur412.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *