SEMARANG – cyberonenews.com – Semangat berkhidmah dan mencari keberkahan kembali menggelora di kalangan Nahdliyin menjelang pelaksanaan Muktamar NU ke-35 di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Muktamar lima tahunan tersebut mengusung tema “Merawat Jagat Membangun Peradaban” dengan semangat “Berkhidmah di NU Mencari Berkah.”
Muktamar menjadi momentum penting bagi warga Nahdlatul Ulama (NU) untuk memperkuat khidmah jam’iyah dan amaliyah, sekaligus terus mengamalkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah melalui berbagai kegiatan keagamaan, sosial, kemasyarakatan, serta kebangsaan.
Semangat tersebut juga menjadi perhatian Forum Kiai Santri Pancasila (FKSP) yang mendorong kemandirian warga Nahdliyin dalam mengikuti dinamika organisasi. Bagi FKSP, keberadaan NU yang besar tidak semata-mata dibangun oleh kekuatan materi, melainkan oleh jamaah, keikhlasan, perjuangan, dan keberkahan para ulama serta pengurus dari tingkat pusat hingga ranting.
“NU besar se-dunia dibangun dengan kekuatan jamaah dan khidmah, bukan karena orientasi bisyaroh. Yang utama adalah ketulusan, kebersamaan, dan keberanian untuk menghidupi NU, bukan mencari hidup di NU,” demikian semangat yang dikedepankan dalam gerakan tersebut.
Menurut FKSP, prakarsa swadaya dan kemandirian warga NU dalam mengikuti Muktamar merupakan bagian dari upaya membangun kemerdekaan warga Nahdliyin. Kemandirian tersebut diharapkan membuat para muktamirin dapat menjalankan hak dan tanggung jawab organisasinya secara bebas, bermartabat, serta tidak terbebani kepentingan tertentu.
“Gerakan dan semangat FKSP mandiri mendukung rihlah demokrasi Nahdliyin. Intinya, kegiatan yang diinisiasi FKSP adalah membangkitkan ghirah dan semangat kebersamaan Nahdliyin dalam membangun keberlanjutan organisasi,” ungkap Ketua FKSP, Kiai Robani.
Ia menegaskan, prakarsa swadaya secara mandiri diharapkan tidak menimbulkan ketergantungan terhadap pihak tertentu. Dengan demikian, proses pemilihan jajaran kepengurusan PBNU dapat berlangsung secara demokratis dan setiap muktamirin dapat menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan organisasi dan hati nurani.
“Muktamirin dari Semarang diharapkan terbebas dari rasa balas budi maupun keterikatan karena pemberian fasilitas dari siapa pun. Mereka harus memiliki kemerdekaan dalam menentukan pilihan dan menjaga marwah NU,” tegasnya.
Kiai Robani juga mengingatkan pentingnya membedakan semangat basyiroh dengan orientasi bisyaroh. Basyiroh dimaknai sebagai kejernihan pandangan batin, ketulusan, keimanan, serta visi untuk melihat kemaslahatan umat dan masa depan organisasi. Sementara bisyaroh dalam penggunaan sehari-hari di lingkungan pesantren dapat merujuk pada pemberian atau imbalan.
“Berorganisasi di NU harus dilandasi keikhlasan. Berkhidmah adalah jalan para santri dan warga jam’iyah NU untuk mendapatkan keberkahan dunia dan akhirat,” kata Kiai Robani.
Menurutnya, selama warga NU ikhlas melayani umat, menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, serta menjalankan amanah organisasi, maka khidmah tersebut memiliki nilai ibadah dan kemaslahatan yang jauh lebih besar daripada sekadar keuntungan materi.
“NU bukan hanya organisasi, tetapi rumah besar untuk mengabdi. Kita ingin membangun NU dengan ketulusan, semangat kebersamaan, dan tanggung jawab kepada umat,” ujarnya.
Kiai Robani juga mengapresiasi semangat warga Nahdliyin di berbagai tingkatan. Menurutnya, kekuatan NU selama ini tumbuh dari keberkahan para muassis dan kiai, serta keikhlasan para pengurus yang terus menggerakkan organisasi hingga tingkat akar rumput.
“Terutama pengurus ranting yang terus bergerak nyata dengan berbagai kegiatan di tengah masyarakat. Mereka inilah yang menjadi salah satu kekuatan utama NU karena langsung bersentuhan dengan umat,” tuturnya.
Ia berharap semangat khidmah tersebut tidak berhenti pada momentum Muktamar, tetapi terus menjadi budaya dalam kehidupan warga Nahdliyin. Kemandirian, persaudaraan, dan keikhlasan harus menjadi modal utama dalam menjaga keberlanjutan jam’iyah NU.
“Mari kita bersama-sama berdoa untuk keselamatan bangsa, para muassis NU, serta arwah para jamaah yang telah mendahului kita. Semoga kegiatan berkhidmah seperti ini terus istiqamah sampai akhir zaman,” pungkas Kiai Robani.
Semangat tersebut dirangkum dalam pesan FKSP: Ngaji Pancasila, Cinta Agama, Cinta Negara, serta Berkhidmah Tanpa Pamrih untuk Mencari Ridha Ilahi,” pungkas Kiai Robani
#PUR412.






