Neraka Bagi Para Pemimpin Zalim dan Mungkar

Blog64 Dilihat

cyberonenews.com

Oleh: DR. H. AM. Jumai, SE., MM

SEMARANG – cyberonenews.com – Dalam perspektif Islam, kepemimpinan adalah amanah suci yang kelak akan dipertanggungjawabkan secara langsung di hadapan Allah SWT. Jabatan bukan sekadar kekuasaan administratif, melainkan instrumen ilahiyah untuk menegakkan keadilan, menghadirkan kemaslahatan, serta menghidupkan nilai amar ma’ruf nahi munkar.

Ketika kepemimpinan dijalankan dengan kezaliman, kemungkaran, kebohongan, dan pengkhianatan amanah, maka ancaman neraka bukan sekadar wacana teologis, melainkan konsekuensi yang nyata dan pasti.

Amanah Kepemimpinan dan Keadilan

Allah SWT menegaskan prinsip utama kepemimpinan dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah dengan adil.”

(QS. An-Nisa: 58)

Pemimpin yang berlaku adil akan memperoleh pertolongan dan keberkahan dari Allah, sedangkan pemimpin yang zalim telah menodai amanah ilahiyah.

Kezaliman adalah akar dari kerusakan sosial, politik, dan moral suatu bangsa.

Dosa Ketidakjujuran dan Kezaliman Struktural

Ketidakjujuran dalam kepemimpinan merupakan dosa besar. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke surga.”

(HR. Muslim)

Sebaliknya, kebohongan, manipulasi kebijakan, serta penyalahgunaan wewenang adalah jalan menuju kehancuran. Allah SWT mengingatkan:

“Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dengan yang batil.”

(QS. Al-Baqarah: 42)

Pemimpin yang membiarkan kemungkaran demi stabilitas semu sejatinya sedang membangun kezaliman struktural yang merusak sendi kehidupan masyarakat.

Nepotisme dan Penempatan Jabatan yang Tidak Profesional

Salah satu dosa besar dalam kepemimpinan adalah menempatkan seseorang pada jabatan strategis bukan berdasarkan keahlian dan kapasitas, melainkan karena kedekatan, kroni, atau hubungan keluarga. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.”

(HR. Bukhari)

Nepotisme bukan hanya pelanggaran etika pemerintahan, tetapi juga bentuk nyata pengkhianatan amanah. Dampaknya adalah rusaknya pelayanan publik, ketidakadilan sistemik, dan tertutupnya ruang bagi orang-orang yang kompeten serta amanah.

Menyingkirkan Orang-Orang Potensial dan Istiqamah dalam Dakwah

Lebih berbahaya lagi, ketika pemimpin justru menyingkirkan, meminggirkan, bahkan memfitnah orang-orang yang potensial dan istiqamah dalam dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Padahal Allah SWT berfirman:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.”

(QS. Ali Imran: 104)

Menindas para pejuang dakwah berarti mematikan kontrol moral dalam masyarakat. Ini adalah bentuk kezaliman ideologis yang mengundang murka Allah SWT.

Kepemimpinan yang Berorientasi Diri, Keluarga, dan Kroni

Pemimpin yang hanya mengabdi pada kepentingan pribadi, keluarga, dan kelompoknya telah mengingkari prinsip keadilan sosial. Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Tidaklah seorang pemimpin yang menipu rakyatnya, melainkan Allah haramkan baginya surga.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Kepemimpinan semacam ini melahirkan ketimpangan sosial, penderitaan rakyat, serta runtuhnya kepercayaan publik terhadap negara dan institusi pemerintahan.

Ancaman Neraka dan Pertanggungjawaban Akhirat

Allah SWT memberikan peringatan keras:

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” (QS. Hud: 113)

Setiap kebijakan zalim, setiap penyingkiran terhadap orang-orang shalih, serta setiap pengkhianatan amanah akan dimintai pertanggungjawaban secara detail di hadapan Allah SWT pada hari akhir.

Penutup: Seruan Taubat dan Amar Ma’ruf

Tulisan ini merupakan nasihat dan peringatan. Kekuasaan bersifat sementara, sementara hisab di akhirat bersifat kekal. Para pemimpin wajib segera bertaubat, memperbaiki sistem, menegakkan keadilan, serta melindungi dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

Di sisi lain, umat Islam berkewajiban terus menyuarakan kebenaran dengan hikmah, kesabaran, dan keteguhan sebagaimana firman Allah SWT:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”

(QS. An-Nahl: 125)

Penulis adalah Dosen FEB Unimus

#b13deks412.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *