Memaknai Pancasila bagi Generasi Muda dan Masyarakat: Fondasi Menuju Indonesia Emas 2045

Blog199 Dilihat

Oleh: AM Jumai

SEMARANG – cyberonenews.com – Peringatan Hari Lahir Pancasila setiap tanggal 1 Juni bukan sekadar seremoni kenegaraan, melainkan momentum untuk merefleksikan kembali posisi Pancasila sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada tahun 2026, peringatan ini menjadi semakin relevan karena Indonesia sedang menghadapi bonus demografi, yaitu kondisi ketika jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan usia nonproduktif. Bonus demografi merupakan peluang besar untuk mempercepat pembangunan nasional, namun sekaligus menghadirkan tantangan yang tidak ringan.

 

Generasi Z dan generasi muda Indonesia saat ini dikenal memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perkembangan teknologi, informasi, dan perubahan sosial. Mereka memiliki kompetensi dan keterampilan yang relatif lebih baik dalam menghadapi era digital. Namun, kemampuan tersebut tidak akan cukup tanpa ditopang oleh karakter, moralitas, etika, serta nilai-nilai kebangsaan yang kuat. Dalam konteks inilah Pancasila memiliki peran strategis sebagai sistem nilai yang membimbing perilaku individu maupun kehidupan kolektif masyarakat.

 

Berbagai fenomena sosial menunjukkan bahwa penguatan nilai-nilai Pancasila masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Tingginya angka pengangguran usia muda, baik di Jawa Tengah maupun secara nasional, berpotensi menimbulkan berbagai persoalan sosial. Di sisi lain, maraknya aksi tawuran, keberadaan kelompok kreak dan gangster, balap liar, penyalahgunaan narkotika, serta meningkatnya keterlibatan anak muda dalam tindak kriminal menjadi indikator adanya krisis nilai dan lemahnya internalisasi karakter kebangsaan. Kondisi tersebut tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan hukum dan keamanan, melainkan juga sebagai persoalan pendidikan karakter dan ketahanan sosial.

 

Secara filosofis, Pancasila mengandung nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial. Kelima sila tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Menurut pemikiran Soekarno, Pancasila adalah dasar yang mampu mempersatukan keberagaman bangsa Indonesia. Sementara itu, para ahli seperti Notonagoro menegaskan bahwa Pancasila merupakan sistem filsafat yang menjadi pedoman dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Penguatan Pancasila harus dimulai dari tiga lingkungan utama, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keluarga merupakan tempat pertama pembentukan karakter anak. Sekolah berperan sebagai ruang pendidikan formal yang menanamkan wawasan kebangsaan dan nilai-nilai moral. Adapun masyarakat dan komunitas menjadi ruang aktualisasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga lingkungan tersebut harus berjalan secara sinergis agar terbentuk generasi yang cerdas secara intelektual sekaligus kuat secara moral.

 

Dalam konteks kehidupan keagamaan, organisasi Islam besar di Indonesia juga memberikan legitimasi kuat terhadap Pancasila. Muhammadiyah memandang Indonesia sebagai Darul Ahdi wa Syahadah, yaitu negara hasil konsensus nasional yang wajib dijaga dan diisi dengan karya nyata untuk kemajuan bangsa. Sementara itu, Nahdlatul Ulama memandang Indonesia sebagai Darussalam, yakni negeri damai yang harus dipelihara persatuan dan kerukunannya. Kedua pandangan tersebut menunjukkan bahwa Pancasila memiliki landasan sosial, historis, dan keagamaan yang kuat dalam kehidupan bangsa Indonesia.

 

Menuju Indonesia Emas 2045, diperlukan kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, dunia pendidikan, keluarga, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, dan masyarakat luas. Pengaruh sosial, budaya, ekonomi, politik, serta perkembangan teknologi digital harus diarahkan untuk memperkuat karakter kebangsaan, bukan justru melemahkannya. Oleh karena itu, Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 harus menjadi momentum untuk mempertegas komitmen bersama dalam membangun bangsa yang beradab, mandiri, toleran, dan berkeadilan. Dengan menjadikan Pancasila sebagai warna dalam setiap aspek kehidupan, Indonesia akan memiliki generasi muda yang tidak hanya unggul dalam kompetensi, tetapi juga kokoh dalam karakter, sehingga mampu mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.

 

*AM Juma’i Dosen Fakultas Ekonomi Hukum dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Semarang / Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan wilayah Muhammadiyah Jawa

Tengah*

 

 

#pur412.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *