GKI di Tanah Papua Menata Peradaban Papua Baru di Abad Kedua

Blog1112 Dilihat

PAPUA –  “Bangsa ini akan bangkit memimpin dirinya sendiri “, nubuat Domine I.S.Kijne ini menjadi dasar GKI di Tanah Papua melakukan refleksi dan menyusun Tatanan Peradaban Papua Baru di Abad Kedua, hal ini dilakukan dalam konferensi menyongsong 1 Abad Nubuat I.S.Kijne, Injil Dan Peradaban Papua, di Jayapura, 9-10 September 2025, dan Lokakarya Gereja dan Peradaban Papua Baru berdasarkan nubuat I.S.Kijne di Manokwari, 16 Oktober 2025.

Tinggal 5 hari lagi peradaban Papua genap berusia 100 tahun, tepatnya pada tanggal 25 Oktober 2025. Peristiwa 1 Abad ini akan diperingati dan dirayakan di Wasior, Teluk Wondama ,Papua Barat, menghadirkan seluruh jemaat GKI di Tanah Papua dan para pemimpin daerah.

Mensyukuri perjalanan peradaban Papua 1 Abad dan mempersiapkan diri memasuki 100 tahun kedua, GKI di Tanah Papua menggagas konferensi dan lokakarya sebagai bentuk refleksi terhadap perjalanan 1 Abad dan mempersiapkan diri pada Abad Kedua. Konferensi dengan tema ” Injil dan Peradaban Papua yang menghadirkan pimpinan gereja dan intelektual GKI , menghasilkan sejumlah pemikiran konstruktif yang diproduksi oleh sepuluh kelompok panel diskusi, kemudian dipersempit dengan lokakarya di Manokwari yang dibagi dalam empat kelompok.

Kelompok 1 membahas topik 100 Tahun GKI Di Tanah Papua – Eklesilogy GKI Ke Masa Depan, Kelompok II membahas Design Peradaban Baru Papua – Peradaban Baru Papua Setelah 100 Tahun, Kelompok III, Sinergitas Gereja Dan Pemerintah Dalam Peradaban Baru, dan Kelompok IV, Bagaimana Peradaban Papua Seratus Tahun Ke Depan – Road Map Papua 100 Tahun. Lokakarya dipandu Pdt. S.Sumihe dengan menghadirkan nara sumber : Prof.Hugo Warami, Rektor UNIPA Manokwari, DR. Suriel Mofu dan Prof. Charlie Heatubun

Ketua Sinode GKI Di Tanah Papua, Pdt. Andrikus Mofu M.Th dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada peserta yang merupakan orang-orang pilihan dari peserta konferensi di Jayapura dan menjelaskan bahwa konferensi di Jayapura diikuti oleh berbagai peserta dari Klasis dan intelektual GKI Di Tanah Papua dengan menghasilkan sumbangan pemikiran dari 10 bidang kelompok panel diskusi, namun lokakarya di Manokwari peserta dibatasi dan materinya dipersempit serta fokus. Sementara Gubernur Papua Barat Saya, Drs.Dominggus Mandacan memamaparkan kerjasama yang telah dilakukan Pemprov Papua Barat Daya dan GKI Di Tanah Papua dalam bentuk program Papua Cerdas, Papua Sehat, Papua Produktif dan Papua Berhikmat.

Dari keempat kelompok diskusi, disimpulkan bahwa untuk memasuki 100 tahun kedua peradaban Papua, GKI Di Tanah Papua tetap mendasari pijakannya pada visi Teologi Kerjaan Allah dan Ketetapan Sidang Sinode XVIII Waropen dimana GKI Di Tanah Papua ” Menjadi gereja pembawa Perdamaian, Keadilan dan Kesejahteraan ” dan dalam fungsinya mengaktualisasikan misi Allah di dunia ” menjadi Gereja yang mengajar untuk mewujudkan Perdamaian, Keadilan dan Kesejahteraan, sebagaimana yang dilakukan I.S.Kijn ketika memulai misinya dan menciptakan guru-guru untuk mengajar.

Memasuki peradaban baru Papua 100 tahun kedua, Bangsa Papua harus berkualitas, cerdas dan bermartabat dengan memiliki moralitas, spiritualitas dan berkarakter Jesus Kristus dan meminta negara untuk menghentikan konflik dan kekerasan yang mengakibatkan hilangnya nyawa sesama anak bangsa agar tidak terjadi korban yang berjatuhan di masa depan.

Untuk mewujudkan hal tersebut diatas maka harus ada sinergitas Gereja, pemerintah dan masyarakat, terutama membangun pendidikan melalui YPK, STT. I.S.Kijne dan Ottow Geisler serta menghasilkan generasi Papua masa depan yang cerdas, dibutuhkan adanya program Papua Sehat, Papua Cerdas, Papua Produktif dalam bidang Ekonomi serta pembinaan mental spiritual dalam program Papua Berhikmat.

Memasuki peradaban baru Bangsa Papua 100 tahun ke depan, dan untuk mencapai visi dan misi GKI Di Tanah Papua dan Eklesilogy Papua Mengajar maka perjalanan peradaban Papua jilid II dibagi ke dalam 4 tahap dengan istilah Papua Road Map Peradaban Kedua. 20 tahun pertama merupakan tahap konsolidasi, 20 tahun kedua merupakan tahap Transformasi, 20 tahun ketiga merupakan Ekspansi dan 20 tahun keempat merupakan tahap stabilisasi serta 20 tahun kelima merupakan tahun Kebangkitan.

Satu catatan penting dalam lokakarya adalah kenapa di usia 80 tahun Indonesia gagal membangun orang Papua, karena NKRI membangun bangsa Papua menggunakan kemauan Jakarta, bukan berdasarkan karakter orang Papua, sama halnya ketika Zending gagal membangun pendidikan di Tanah Papua sebelum tahun 1925, dan Pdt. J. Van Hasselt senior berkeinginan menutup sekolah-sekolah di Tanah Papua dengan alasan kekurangan guru karena para misionaris membangun orang Papua menjadi orang Eropa, berbeda dengan Izak Samuel Kijne yang mempelajari karakter orang Papua dan menemukan jati diri mereka.

Salah satu studi kasus yang dipelajari dan menjadi dasar Kijne menetapkan keputusannya adalah memperhatikan siswa-siswa Papua di Mansinam ketika jam istirahat, mereka tidak membaur dengan siswa lain bukan Papua dan lebih memilih berkumpul sendiri, hal ini pula yang semakin memantapkan Izak Samuel Kijne menutup sekolah di Mansinam dan memindahkannya ke Miei dimana sekolah tersebut dikhususkan bagi anak-anak Papua.

Ketika memulai misi pengajarannya sebagai guru di Miei, Teluk Wondama, Izak Samuel Kijne meletakkan baru peradaban di Bukit Aitumeri dan mengucapkan Nubuatnya ” Diatas Batu Ini, Saya Meletakkan Peradaban Orang Papua, Sekalipun Orang Memiliki Kepandaian Tinggi Dan Marifat Tetapi Tidak Dapat Memimpin Bangsa Ini, Bangsa Ini Akan Bangkit Memimpin Dirinya Sendiri ”

( Joe )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *