Seorang Anak Perempuan di Jepara Diiming – iming Kerja Berujung Diperkosa Secara Bergantian

Blog73 Dilihat

 

Cyberonenews.com

JEPARA – Dugaan kekerasan seksual terhadap anak kembali mengguncang publik.Seorang anak perempuan berinisial SK diduga menjadi korban kekerasan seksual berulang yang melibatkan sejumlah pria di wilayah Kecamatan Mayong Kabupaten Jepara.Kasus ini bukan sekadar peristiwa tunggal,melainkan mengarah pada dugaan pola terstruktur dengan modus perekrutan berkedok pekerjaan,Selasa (5/5/2026).

Peristiwa bermula pada Rabu, 29 April 2026,ketika korban diajak oleh seorang perempuan berinisial R, warga Desa Plank, Mayong,dengan iming-iming pekerjaan sebagai asisten rumah tangga (ART).Tawaran tersebut diterima orang tua korban dengan harapan dapat membantu ekonomi keluarga.

Namun alih-alih bekerja di rumah majikan,korban justru dibawa ke sebuah penginapan di wilayah Mayong.Di lokasi itu,menurut keterangan yang dihimpun,telah menunggu sejumlah pria yang kemudian diduga melakukan kekerasan seksual terhadap korban secara bergantian.

Tidak berhenti di satu tempat,pada hari berikutnya korban kembali diduga mengalami kekerasan serupa di lokasi berbeda,yakni sebuah gudang di sekitar tempat tinggal terduga pelaku.Dugaan tindakan berlangsung berulang selama beberapa hari dengan pelaku yang berbeda.

Korban disebut sempat berupaya melawan,namun tidak berdaya karena adanya tekanan fisik dari para pelaku. Pola kejadian yang berpindah lokasi ini memunculkan dugaan adanya skema yang lebih luas,bukan sekadar tindakan individual.

Orang tua korban dengan nada haru mengaku sempat ragu melaporkan kejadian tersebut,karena keterbatasan ekonomi dan rasa takut menjadi alasan utama.

“Kami hanya orang yang tidak punya,untuk makan saja sulit,maka Awalnya kami tidak berani melapor,”ujarnya.

Kasus ini akhirnya dilaporkan ke Polres Jepara dengan pendampingan seorang warga berinisial HN yang peduli terhadap kondisi korban,hingga proses hukum berjalan,dan Polisi dalami dugaan jaringan.

Laporan telah diterima dan korban telah menjalani pemeriksaan medis di RS RA Kartini sebagai bagian dari proses penyelidikan.

Aparat kepolisian kini tengah melakukan pendalaman,termasuk mengidentifikasi para terduga pelaku serta menelusuri kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat.

Sejumlah pihak mendesak agar penyidikan tidak berhenti pada pelaku lapangan semata,tetapi juga mengungkap aktor yang diduga berperan dalam perekrutan dan pengondisian korban.

Kasus ini memantik perhatian serius karena melibatkan anak sebagai korban serta adanya dugaan modus perekrutan berkedok pekerjaan.Publik mendesak aparat bertindak cepat, transparan,dan tidak ragu mengungkap jika terdapat jaringan atau pola kejahatan yang lebih besar di balik peristiwa ini.

“Pendamping korban menegaskan harapan agar seluruh pelaku diproses sesuai hukum yang berlaku,karena ini sangat tidak manusiawi,terlebih korbannya anak,dan kami berharap pelaku dihukum setimpal,”ungkapnya.

Kasus ini menjadi alarm keras bagi pengawasan terhadap praktik perekrutan tenaga kerja informal yang rawan disalahgunakan.

Aparat penegak hukum dituntut tidak hanya menindak,tetapi juga membongkar pola,aktor,dan kemungkinan jaringan yang beroperasi di balik modus serupa.

Hingga berita ini diturunkan,pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut dan belum memberikan keterangan resmi terkait jumlah pasti terduga pelaku maupun konstruksi perkara secara menyeluruh.

( Adhi S )