Cyberonenews.com
SEMARANG – Dalam suasana hening dan penuh kekhidmatan, Paguyuban Mataram Agung Nusantara (MAN) Semarang, Jawa Tengah, resmi dibentuk melalui prosesi budaya di kompleks pelataran Makam Mbah Genuk, salah satu situs sakral dan bersejarah Kota Semarang, pada Minggu (11/1/2026).
Pembentukan MAN dimaknai sebagai ikhtiar batin untuk menyatukan para budayawan, pemerhati sejarah, serta para pelaku laku budaya Jawa dalam satu wadah pengabdian. Paguyuban ini diharapkan menjadi ruang teduh bagi pertemuan rasa, cipta, dan karsa dalam menjaga kesinambungan warisan leluhur Nusantara.
Di tengah derasnya arus zaman, MAN hadir dengan misi meluruskan sejarah Tanah Jawa yang dinilai telah mengalami penyimpangan makna. Pelurusan sejarah tersebut bukan semata urusan narasi, melainkan upaya mengembalikan ruh dan nilai adiluhung agar generasi penerus tidak tercerabut dari akar spiritual dan kebudayaannya.
Selain itu, Paguyuban Mataram Agung Nusantara juga dibentuk sebagai wujud bakti dan perlindungan spiritual terhadap GRM Soeryo Bandriyo (KGPH Panembahan Agung Benowo), selaku Pengageng Kasentanan ing Kraton Surakarta Hadiningrat, sebagai simbol keberlanjutan trah, adat, dan nilai-nilai luhur Mataram.
Dalam struktur organisasi, Arianik Indriastutik yang dikenal dengan nama Ray Ambarwati Kencono Wungu ditetapkan sebagai pembina sekaligus pendiri MAN. Sosok ini dipandang sebagai penjaga laku dan penuntun spiritual dalam mengarahkan perjalanan paguyuban agar tetap berpegang pada etika, adat, dan dhawuh leluhur.
Sementara itu, amanah Ketua Umum dipercayakan kepada RM Miko Yulianto, ST, dengan KRT Kokok Wahyudi, SH, sebagai Ketua. Keduanya diharapkan mampu mengharmoniskan dimensi organisasi lahiriah dengan kedalaman batiniah dalam menggerakkan MAN secara berkesinambungan.
Ketua Umum MAN, RM Miko Yulianto, ST, menyampaikan bahwa MAN bukan sekadar organisasi, melainkan wadah pengabdian budaya. Ia menegaskan pentingnya merawat budaya Jawa melalui laku, pitutur, dan teladan, bukan hanya melalui wacana, agar nilai-nilai luhur tetap hidup dalam keseharian masyarakat,” tuturnya.
Ki Togog selaku Humas sekaligus tuan rumah kegiatan menuturkan bahwa pemilihan Makam Mbah Genuk memiliki makna simbolik sebagai titik temu antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Tempat tersebut menjadi pengingat bahwa kebudayaan tumbuh dari penghormatan kepada leluhur dan kesadaran akan asal-usul,” ucapnya.
Peresmian Paguyuban Mataram Agung Nusantara ini dihadiri sekitar 60 budayawan dari berbagai daerah, termasuk Temanggung dan kawasan Candi Gedong Songo, Kabupaten Semarang.
Seluruh rangkaian acara berlangsung dengan tertib, sakral, dan penuh rasa, sebagai penanda lahirnya ikatan budaya yang berlandaskan spiritualitas dan kebijaksanaan Jawa.
#Bl3deks.412






