Paguyuban Mataram Agung Nusantara Bersama Damar Kedhaton Nusantara Gelar Doa dan Saresehan di Gedong Songo

Blog49 Dilihat

cyberonenews.com

SEMARANG – Paguyuban Mataram Agung Nusantara bersama Keluarga Besar Damar Kedhaton Nusantara Kota Semarang menggelar Doa Bersama dan Saresehan bertema “Memayu Hayuning Diri, Memayu Hayuning Saksomo, Memayu Hayuning Bawono” di Pelataran Cagar Budaya Candi Gedong Songo 1, Ungaran, Kabupaten Semarang, Minggu (28/12).

Kegiatan tersebut berlangsung khidmat dan diikuti puluhan anggota serta sejumlah komunitas nguri-uri budaya dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Acara diawali dengan kirab budaya menuju gasebo, kemudian dilanjutkan kirab menuju Candi Gedong Songo 1 sebagai pusat kegiatan spiritual dan budaya.

Setibanya di lokasi, seluruh peserta bersama-sama memanjatkan doa kepada Sang Pencipta. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan ritual mengelilingi candi sebanyak sembilan kali sebagai simbol laku spiritual dan refleksi diri.

Ketua Damar Kedhaton Nusantara Kota Semarang, KRT Kokok Wahyudi Prawiro Dipuro, SH, MH, menjelaskan bahwa kegiatan doa dan saresehan ini dilaksanakan sebagai bentuk panggilan spiritual untuk kembali pada jati diri Nusantara. Ia menyebutkan bahwa berbagai peristiwa alam yang terjadi saat ini menjadi pengingat agar manusia kembali menyelaraskan diri dengan nilai-nilai luhur.

“Ini merupakan wujud ikhtiar batin kami. Seperti sabda Palon, sudah waktunya kembali ke Nusantara, kembali pada kesadaran jati diri. Melalui doa bersama ini, kami berharap masyarakat semakin sadar untuk selalu memayu hayuning diri, memayu hayuning saksomo, dan memayu hayuning bawono,” ujarnya.

Ia berharap nilai-nilai yang diperoleh dari kegiatan tersebut dapat membekas dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami berpesan agar kegiatan ini membawa kita semakin mendekat kepada Sang Pencipta. Untuk Nusantara, kami tidak tinggal diam, kami akan memberikan yang terbaik,” tambahnya.

Senada dengan itu, salah satu sesepuh, Eyang Sutarno, menjelaskan makna filosofis dari tema kegiatan. Menurutnya, memayu hayuning diri bermakna membangkitkan kesadaran dan kepercayaan diri sebagai pribadi yang terpanggil menyongsong kebangkitan nilai-nilai luhur Nusantara.

“Memayu hayuning saksomo berarti mengajak kebersamaan dan kerja sama antar sesama. Sedangkan memayu hayuning bawono adalah ikhtiar menjaga keharmonisan alam semesta melalui doa, karena alam adalah perpanjangan tangan dari kehendak Tuhan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa pelaksanaan kegiatan di kawasan Candi Gedong Songo 1 dilakukan dengan penuh kekhidmatan dan berjalan sukses sesuai harapan bersama.

Sementara itu, Ketua Panitia Penyelenggara Miko Alfianto SE sekaligus Ketua Paguyuban Mataram Agung Nusantara, berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan menjadi penguat jati diri bangsa. “Ke depan, kami berharap tetap eksis sebagai tonggak NKRI dengan kembali pada nilai-nilai Nusantara dan budi pekerti luhur, agar kita menjadi diri kita sendiri tanpa terpengaruh budaya luar,” pungkasnya.

Kegiatan doa dan saresehan ini turut didukung oleh PT Wijaya Laksmi Bhuana Agung sebagai bentuk dukungan terhadap keutuhan, keselamatan, dan keharmonisan Nusantara.

   #b13deks412.