Ormas dan Peran Sosial Kebangsaan Dalam Semangat Kebangkitan Nasional

Blog110 Dilihat

Oleh : AM Jumai 

 

Cyberonenews.com

SEMARANG – Organisasi kemasyarakatan (ormas) memiliki posisi strategis dalam pembangunan bangsa dan negara. Dalam konteks kehidupan demokrasi di Indonesia, ormas bukan hanya menjadi wadah berkumpulnya masyarakat, tetapi juga menjadi instrumen sosial yang mampu membangun kesadaran kolektif, memperkuat nasionalisme, serta menggerakkan partisipasi publik dalam pembangunan daerah maupun nasional.

Kehadiran ormas telah diatur secara yuridis melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan yang menegaskan bahwa ormas dibentuk secara sukarela berdasarkan kesamaan aspirasi, kehendak, kebutuhan, kepentingan, kegiatan, dan tujuan untuk berpartisipasi dalam pembangunan demi tercapainya tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam perspektif pembangunan daerah, Pemerintah Kota Semarang juga memberikan perhatian serius terhadap eksistensi ormas melalui Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2023 tentang Pemberdayaan Organisasi Kemasyarakatan. Regulasi tersebut menjadi landasan penting bagi peningkatan kapasitas ormas agar mampu menjalankan fungsi sosial, edukatif, dan pemberdayaan masyarakat secara lebih optimal.

Hal ini menunjukkan bahwa negara memandang ormas sebagai mitra strategis pemerintah dalam membangun stabilitas sosial, ketahanan masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan.

Secara substantif, fungsi ormas meliputi penyalur aspirasi masyarakat, pemberdayaan sosial, pelayanan kemasyarakatan, pemeliharaan nilai agama dan budaya, serta penguatan persatuan dan kesatuan bangsa.

Dalam ruang lingkup yang lebih luas, ormas berperan aktif di bidang pendidikan, sosial, ekonomi, keagamaan, lingkungan hidup, hingga advokasi kebijakan publik. Kiprah tersebut menjadi modal sosial yang sangat penting dalam membangun masyarakat yang partisipatif dan berkeadaban.

Dalam sejarah kebangkitan nasional Indonesia, peran organisasi masyarakat sangat dominan. Kebangkitan nasional yang dipelopori oleh berbagai organisasi pada awal abad ke-20 menunjukkan bahwa kekuatan kolektif masyarakat mampu menjadi motor perubahan sosial dan politik.

Nasionalisme dan patriotisme tidak lahir secara instan, melainkan tumbuh melalui gerakan pendidikan, dakwah, sosial, dan perjuangan intelektual yang dibangun oleh organisasi-organisasi masyarakat. Oleh karena itu, ormas masa kini memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga semangat kebangsaan di tengah tantangan globalisasi, disinformasi digital, polarisasi politik, dan melemahnya solidaritas sosial.

Di Kota Semarang, keberadaan Forum Komunikasi Ormas Semarang Bersatu atau FKSB menjadi contoh nyata sinergi antarormas dalam mendukung pembangunan daerah. FKSB menjadi wadah berhimpunnya berbagai organisasi masyarakat dengan semangat kolaborasi, persaudaraan, dan pengabdian sosial. Kehadiran FKSB tidak hanya memperkuat komunikasi lintas organisasi, tetapi juga membangun harmonisasi sosial dalam bingkai persatuan kebangsaan.

Berbagai program yang dilaksanakan FKSB menunjukkan orientasi pembangunan yang progresif dan inklusif. Kegiatan seperti Ormas Award, Ormas Expo, Festival Budaya Ormas, Kemah Pembauran Ormas, pelatihan kemandirian organisasi, bimbingan teknis fundraising, serta tertib administrasi organisasi merupakan langkah konkret dalam meningkatkan kualitas dan profesionalisme ormas. Program-program tersebut sekaligus menjadi sarana penguatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan jejaring sosial, serta penguatan identitas kebangsaan di tengah masyarakat multikultural.

Selain itu, FKSB juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak dalam penyelenggaraan forum group discussion (FGD), silaturahmi antarormas, dan kolaborasi komunitas untuk mendukung visi “Semarang Semakin Hebat.” Pendekatan dialogis dan partisipatif seperti ini sangat penting dalam menciptakan pembangunan yang inklusif dan berorientasi pada kepentingan masyarakat luas. Ormas tidak boleh hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi harus hadir sebagai pelopor perubahan sosial yang konstruktif.

Namun demikian, tantangan ormas ke depan tidaklah ringan. Persoalan kapasitas organisasi, konflik kepentingan, pragmatisme politik, serta lemahnya tata kelola masih menjadi hambatan dalam optimalisasi peran ormas. Karena itu, penguatan integritas, akuntabilitas, profesionalisme, dan wawasan kebangsaan harus terus dilakukan agar ormas tetap menjadi pilar masyarakat sipil yang sehat dan berdaya guna.

Pada akhirnya, kebangkitan nasional di era modern memerlukan keterlibatan aktif seluruh elemen bangsa, termasuk organisasi kemasyarakatan. Ketika ormas mampu bergerak bersama dalam semangat persatuan, gotong royong, dan pengabdian sosial, maka pembangunan bangsa akan berjalan lebih kuat, berkeadilan, dan berkelanjutan. Ormas bukan sekadar organisasi sosial, tetapi energi kebangsaan yang menjaga Indonesia tetap kokoh dalam keberagaman.

 

(AM Jumai Dosen Fakultas        
Ekonomi Hukum dan Bisnis    
Universitas Muhammadiyah   
Semarang/ Ketua FKSB Kota).

 

#pur412.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *