Ketua DPRD Demak Zayin : “Stop Bullying dan Segala Bentuk Perilaku Kekerasan”

Blog38 Dilihat

Cyberone News. Com

DEMAK – Ketua DPRD Demak Zayin : “Peringatan keras bagi kita semua. Stop bullying dan segala bentuk perilaku kekerasan, baik fisik maupun verbal di lingkungan keluarga dan sekolah.

“Mari kita perkuat komunikasi dengan anak; dengarkan mereka, karena kesehatan mental anak adalah tanggung jawab kolektif kita bersama”. Terang Zayin.
Pada berita yang telah diterbitkan oleh sebuah media online, kasus bunuh diri seorang bocah perempuan berusia 12 tahun di Demak yang sempat viral karena unggahan tangkapan layar chat dengan ibunya, menyita perhatian publik. Ketua DPRD Demak, Zayinul Fata, menyampaikan duka cita mendalam sekaligus mengajak para orang tua untuk menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran berharga untuk memperbaiki pola komunikasi dengan anak.

Zayin, sapaan akrabnya, mengaku prihatin atas kejadian yang menimpa siswi sekolah dasar tersebut. Menurutnya, tragedi ini harus menjadi alarm bagi semua pihak, terutama orang tua, tentang pentingnya kesehatan mental anak dan pola asuh anak di era digital.
“Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kita untuk berkata-kata yang baik. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Thaha ayat 44, qaulan layyinan, yang artinya berkatalah dengan lemah lembut. Bahkan kepada Firaun saja diperintahkan lembut, apalagi kepada darah daging sendiri,” ujar Zayin.

“Memang dalam Islam juga mengajarkan birrul walidain (berbakti pada orang tua), tapi orang tua juga punya kewajiban mendidik dengan kasih sayang, bukan dengan lisan atau ketikan yang melukai,” sambungnya.

Meski tangkapan layar percakapan berisi kalimat kasar sempat viral, Zayinul meminta publik tidak terburu-buru menghakimi jika hal itu adalah satu-satunya penyebab korban mengakhiri hidupnya.

Menurutnya, keputusan seseorang untuk bunuh diri biasanya dipicu oleh akumulasi tekanan psikologis yang kompleks.

“Kita jangan menjustifikasi bahwa ini murni hanya karena satu chat itu saja. Masalah mental itu seperti fenomena gunung es. Bisa jadi ada faktor lain yang tidak kita ketahui, mungkin tekanan di sekolah, lingkungan pergaulan, atau beban mental yang sudah dipendam lama dan tidak terkomunikasikan,” jelas Zayin.

Zayin berharap kasus ini membuka mata pemerintah daerah dan institusi pendidikan di Demak untuk lebih peka terhadap kondisi psikologis siswa. Ia mendorong adanya ruang konseling yang ramah anak di sekolah maupun desa agar anak-anak yang memiliki masalah memiliki tempat untuk bercerita.

“Anak-anak generasi saat ini tantangannya berbeda. Mereka butuh didengar, bukan sekadar didikte. Mari kita ciptakan ruang aman di rumah dan lingkungan kita,” pungkasnya.

( Wth/Red)